Aguan Memikirkan Ingin Kontribusi Tambahan Yang Banyak

Aguan Memikirkan Ingin Kontribusi Tambahan Yang Banyak

Aguan tak menjawab pertanyaan apakah ia telah memerintahkan Prasetyo agar kontribusi tambahan dibuat sekecil mungkin. Ia tak mau menjawab setelah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi, Senin pekan lalu. Aguan dicegah ke luar negeri untuk pemeriksaan Mohamad Sanusi, politikus Gerindra tersangka penerima suap reklamasi, dan Ariesman Widjaja, Direktur Utama Podomoro Land, yang memberinya sogokan.

l l l UPAYA menjegal kontribusi tambahan pengembang tak hanya dilakukan melalui NJOP. Suap kepada Sanusi diduga untuk menurunkan kontribusi dari 15 persen menjadi 5 persen. Dan Sanusi sesungguhnya bukan anggota Badan Legislasi sejak mula. Adik Taufik ini masuk Badan Legislasi pada 21 Oktober 2015, menjelang pembahasan rancangan peraturan daerah itu. Taufik, Ketua Gerindra Jakarta, beralasan memasukkan adiknya ke Badan Legislasi untuk penyegaran.

”Sanusi menggantikan orang separtainya yang cuti hamil,” kata Krishna Murthi, pengacaranya. Masalahnya, jabatan-jabatan di tempat lain tak diserahkan Sanusi kepada politikus lain. Karena itu, selain anggota Badan Legislasi, ia menjabat Ketua Komisi Pembangunan dan anggota Badan Anggaran. Sanusi orang yang cocok menjadi jembatan Dewan dengan pengembang dalam urusan reklamasi, selain Prasetyo Edi. Ia berkongsi dengan Podomoro mengelola pusat belanja Thamrin City. Sedangkan Prasetyo hingga kini masih bekerja di salah satu perusahaan Aguan, kendati mengaku tak ikut campur mengelola urusan teknis.

Dengan kedekatan itu, Prasetyo membawa pimpinan DPRD menemui Aguan di rumahnya di Pantai Indah Kapuk, awal Desember 2015. Prasetyo membawa serta Ketua Panitia Khusus Reklamasi Selamat Nurdin dari Partai Keadilan Sejahte ra dan Ongen Sangaji dari Hanura, selain Taufik dan Sanusi. Selamat Nurdin membenarkan adanya pertemuan itu, tapi menyangkal membicarakan reklamasi. ”Kami hanya makan siang dan berkenalan,” ujarnya.

Yang jelas, menurut Inggard Joshua dari NasDem, setelah kumpul-kumpul itu, beredar kabar ada suap Rp 5 miliar bagi anggota yang mendukung penurunan kontribusi. Itu baru suapnya. Ada pula iming-iming lain, seperti diskon bagi anggota Dewan jika membeli apartemen di pulau reklamasi, juga uang rapat agar pembahasan peraturan daerah itu mencapai kuorum. ”Saya ditawari Rp 100 juta oleh pimpinan,” kata Fajar Sidik dari Gerindra. Ada juga ongkos jalan-jalan ke luar negeri dan hadiah mobil Alphard.

Taufik salah satu yang disebut mendapat suap berupa sangu dan tiket berlibur ke Amerika Serikat dari Aguan. Ia menyangkalnya. ”Kalau ke sana, gue masih mampu,” ujarnya. Menurut Sanusi kepada penyidik KPK, perintah sogok itu datang langsung dari Aguan. Suatu kali pada Desember 2015, ia dipanggil Aguan ke kantornya di Harco Mangga Dua, Jakarta. Aguan meminta Sanusi berkoordinasi dengan anaknya, Richard Halim Kusuma. Seperti ayahnya, Richard dicegah bepergian ke luar negeri.

Setelah pertemuan di Harco itu, Sanusi menyampaikan keinginan Aguan kepada Sunny Tanuwidjaja, anggota staf khusus Gubernur Basuki. KPK telah menyadap percakapan mereka tentang kontribusi reklamasi. Perencanaan itu buyar begitu Sanusi ditangkap KPK pada awal Maret lalu. Menurut Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pembangunan Gamal Sinurat, siasat lain anggota Dewan adalah memindahkan kontribusi tambahan dari peraturan daerah ke peraturan gubernur.

Taufik orang yang disebut getol melobi opsi ini. Lobinya hampir berhasil ketika pemerintah sepakat mengatur kontribusi dalam peraturan gubernur pada hasil pembahasan Februari lalu. Taufik menilai kontribusi dalam rancangan peraturan daerah tak memiliki dasar hukum. Ia mengklaim bertemu dengan Gubernur Basuki membicarakan soal itu, dan setuju soal kontribusi dihilangkan dari peraturan daerah. ”Itu yang saya bilang dia menipu, fitnah,” ujar Basuki ketika dimintai konfirmasi.

Gagal mempengaruhi Basuki, Taufik mengontak Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Heru Budi Hartono. Heru termasuk pejabat yang dipercayai Basuki, sehingga ia diajak menjadi calon wakil gubernur dalam pemilihan tahun depan melalui jalur nonpartai. ”Dia orang dekat Gubernur,” kata Taufik. ”Setiap pejabat dekat dengan Ahok,” Heru menimpali.

Website : kota-bunga.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *