Harga Tinggi, Petani Unjuk Gigi

Sekadar contoh betapa bergairahnya petani jagung bisa terlihat di Desa Sukajadi, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Menu rut Heriyanto, Ketua Kelompok Tani Harapan I, sejak musim tanam gadu 2014, kelompoknya yang beranggo takan 15 orang bermitra dengan PT Vasham Kosa Sejahtera dalam penanaman jagung seluas 11 ha.

Kini anggota ke lompok sudah berkembang menjadi 30 orang dengan luas tanam 40 ha. “Tingginya animo petani menanam jagung dengan sistem kemitraan karena produksi naik dan harga melambung. Pada musim panen rendeng lalu, kami menjual jagung kering panen seharga Rp3.300/kg,” ujar Heriyanto yang biasa dipanggil anggotanya Mas Anang kepada AGRINA di rumahnya, baru-baru ini. Pilih Jagung Modal budidaya jagung memang dua ka li lipat dibandingkan singkong, tetapi petani di desa Anang lebih memilih menanam jagung.

Tanam singkong butuh biaya sebanyak Rp3 juta/ha, sementara jagung rata-rata Rp6 juta/ha. Tapi karena panen jagung dua kali setahun, sementara singkong hanya sekali panen sebab umur singkong mencapai 10-11 bulan, maka pendapatan dari menanam jagung lebih besar. Jika produksi singkong 20 ton/ha dan dijual seharga Rp1.000/kg, maka pe tani hanya mengantongi Rp17 juta setelah dikurangi biaya produksi Rp3 ju ta. Sementara kalau menanam ja gung dengan produksi 6 ton/ha dan harga jual Rp3.000/kg, dari sekali pa nen petani mampu meraup Rp12 juta setelah dikurangi biaya tanam. Bila ia tanam dua kali, pendapatannya Rp24 juta.

“Jadi kami minta pemerintah menjaga harga jagung agar stabil sehingga se mangat dan gairah petani menanam ja gung bisa terus bertambah,” cetus Anang mewakili aspirasi para petani jagung. Menurut penanam benih Pioneer dan DK27 tersebut, pertumbuhan jagung pada musim gadu ini lebih baik ketimbang saat musim rendeng lalu. Ia berharap hujan masih turun hingga ja gung berumur 90 hari agar pertumbuhan tongkol menjadi sempurna.

“Hing ga usia 80 hari belum ada laporan jagung anggota terserang hama dan penyakit,” akunya. Mereka hanya meng khawatirkan angin ribut yang acap terjadi pada musim pancaroba karena bisa merobohkan tanaman. Selain harga pembelian lebih tinggi, menurut Anang, petani makin banyak yang bergabung ke kemitraan Vasham karena lebih diuntungkan dalam hal tim bangan dibandingkan jika jagung di jual ke tengkulak.

Lalu benih, pupuk serta obat-obatan juga diberikan perusa haan sehingga sangat membantu bagi petani yang kekurangan modal. Merambah Sawah Gairah bertanam jagung juga diakui Kuswanto, petani di Desa Trirahayu, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pe sawaran. “Pada musim gadu ini, tidak saja tegalan, sawah juga banyak di tanami jagung,” cetus Mas Kus, panggilan akrabnya.

Bahkan pembudidaya kakao pun membongkar tanamannya yang bela kangan banyak terserang penyakit lalu menggantinya dengan jagung. Begitu pula lahan yang sebelumnya ditanami sawit dan karet ikut disulap menjadi la han jagung. Apalagi belakangan harga karet dan pro.

Website : kota-bunga.net

Bersepeda Secara Efisien

https://www.cantiknsehat.com/ – Jika Anda ingin melaju lebih cepat tanpa perlu banyak mengayuh sepeda, ini caranya. Teknik mengayuh tidak hanya sekadar mengayuh pedal sebanyak dan secepat mungkin. cara itu justru akan menghabiskan tenaga. Manfaatkan beberapa cara pintar untuk mendapatkan putaran roda cepat, dengan sedikit tenaga. satu hal yang kerap dilakukan adalah mengombinasikan gowesan dengan tarikan kayuhan dan memutarnya sehingga kayuhan membentuk gerakan parabolik sempurna.

Baca juga : cara menghilangkan pori pori bekas jerawat

Tujuannya adalah untuk menghilangkan “titik mati” dari kayuhan anda. apa itu titik mati? itu adalah sebuah titik momentum saat kaki anda harus memberikan tenaga lebih pada kayuhan untuk melaju. umumnya, titik mati terjadi ketika posisi pedal berada di arah jam 12 dan jam 6. cara sederhana lain adalah dengan menjejakkan kaki pada pedal secara halus namun bertenaga. semakin halus jejakan, kayuhan anda akan semakin efisien. secara spesifik, Todd Carver, ahli biomekanik di retül, Boulder, colorado, amerika serikat, memberikan beberapa teknik mengayuh sepeda yang efisien.

Menurutnya, dengan teknik ini, pesepeda dapat menghasilkan tenaga yang sama (diukur dalam satuan watt) dengan denyut jantung 5 bpm lebih rendah dari cara bersepeda konvensional. artinya, anda akan melaju lebih cepat, dengan usaha lebih sedikit. Berikut tekniknya. Atur posisi kaki para pesepeda sering menyebut kaki mereka sebagai “piston” karena kaki akan terlihat seperti piston yang bergerak ke atas dan ke bawah.

Baca juga : cara menghilangkan jerawat pasir di jidat

Agar gerakan itu mulus dan mengurangi beban tenaga, posisikan kedua lutut lurus mengarah ke depan. Jangan sampai posisi lutut anda mengarah ke luar atau ngangkang. usahakan pinggul anda tidak goyah. sebelum mulai, perhatikan posisi kaki anda saat mengayuh di stationary bike. pinggul, lutut, dan pergelangan kaki harus sejajar selama mengayuh.

Baca juga : cara memutihkan mata kuning

Angkat tumit untuk mendapatkan tenaga anda akan mengayuh dengan tenaga maksimal saat kaki anda berada di posisi jam 12. untuk mendapatkan kayuhan maksimal, maksimalkan tenaga anda di posisi tersebut dengan sedikit mengangkat tumit dan tumpukan kekuatan pijakan pada ujung telapak kaki. Manfaatkan bagian luar telapak kaki untuk membantu pedal ke atas. saat anda kayuhan anda mencapai bawah, bantu pedal naik ke atas dengan sedikit menekuk ujung luar telapak kaki anda ke bawah.

Bawa maju lutut Anda menuju palang sepeda. setiap orang kehilangan sedikit momentum dan tenaga saat melakukan upstroke. kondisi ini juga merupakan saat di mana posisi lutut anda dapat keluar ke samping. Minimalisir hal tersebut dengan terus melakukan active upstroke. saat kayuhan anda sudah mencapai atas, dorong lutut anda ke depan menuju palang frame sepeda. pastikan untuk menjaga tulang panggul tetap siap pada saddle selama kayuhan sehingga tidak ada energi yang terbuang.