Ironi Delik Penistaan Agama Bagian 3

Pasal pencemaran dan penistaan ternyata mendorong kelompok agama saling mencari kesalahan pihak lain menggunakan tangan negara. Delik penistaan ini punya sejarah panjang dan kelam. Pasal-pasal pidana yang multitafsir ini lalu merembet ke Tanah Air di era Orde Lama pada 1965, sebagai godam untuk penganut agama minoritas dan dimanipulasi demi kepentingan politik. Selain mengancam kebebasan berpendapat, pasal ini sering dipakai untuk menegakkan fanatisme atas agama mainstream.

Padahal komunitas internasional mulai menghapus ketentuan itu. Menurut riset Pew Research Center pada 2014, hingga dua tahun lalu negara di dunia yang masih menerapkan undang-undang penistaan terhadap agama (blasphemy) hanya tinggal sekitar 26 persen. Kebanyakan negara di Timur Tengah dan Afrika Utara. Di kedua wilayah tersebut setidaknya 18 dari 20 negara menggunakan undang-undang anti-penghinaan agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *